Kesalahan Orangtua Pemula Saat Memondokkan Anak

Rabu, 03 Nov 2021 | 11:59:33 WIB - Oleh Admin


Kesalahan Orangtua Pemula Saat Memondokkan Anak

Bila zaman dulu, ada banyak orang yang menuntut pengetahuan di pesantren dengan tekad serta kemauan sendiri. Beberapa orangtua cuma dapat mendukung dengan doa restu, sedang si anak mesti mencari bekal sendiri.

Nampaklah grup santri yang dimaksud santri kasab atau santri pekerja. Mereka belajar serta mesti bekerja untuk penuhi keperluan di pesantren.

Lain dahulu lain saat ini. Lantaran perubahan zaman serta perkembangan teknologi, pergaulan anak makin mencemaskan beberapa orangtua.

Hingga untuk menyelamatkan anak dari dampak pergaulan yang jelek, serta supaya lebih gampang dibuat jadi anak saleh, beberapa orangtualah yang berinisatif memondokkan putra-putrinya ke pesantren.

Hingga orangtua mesti mengaplikasikan beragam langkah supaya si anak ingin mondok. Untuk anaknya tetaplah di pesantren, kadang-kadang mereka yang anaknya telah melalui tingkat kenakalan yang bikin pengurus angkat tangan, masihlah saja bersikeras supaya anaknya tetaplah di pesantren.

Nah, berkaitan beberapa orangtua yang semangat memondokkan anaknya, ke 5 sikap di bawah ini layak di perhatikan. Lantaran, menurut pengalaman dari beberapa ustadz serta pengasuh pesantren, orangtua yang mempunyai sikap itu anaknya malah umumnya tak berhasil meniti pendidikan di pesantren. Berikut 5 sikap itu:

1. Sangat Kritis pada Kebijakan Pesantren

Ada loh orangtua yang tidak terima bila anaknya terserang hukuman lantaran pelanggaran di pesantren. Banyak bahkan juga. Kebijakan pengasuh serta pengurus pesantren mereka kritik habis-habisan.

Seperti suporter bola yang memberi komentar kompetisi, orangtua jenis ini menyodorkan beragam usulan seakan ia paling tahu langkah mendidik santri.

Terkadang ia membanding-bandingkan satu pesantren dengan pesantren yang lain dihadapan kyai atau pengurus pesantren yang mendidik anaknya. “Kalau di pesantren A itu begini, di pesantren B itu bagitu, harusnya pesantren sini dapat seperti mereka.”

Sesungguhnya, pengasuh ataupun pengurus bila hadapi orang jenis ini menahan diri supaya tak kelepasan omong seperti begini : “Ya sudah anak bapak pondokkan kesana saja!”

Melindungi perasaan pengasuh serta pengurus pesantren butuh diperhatikan beberapa orangtua. Bila tak sepakat dengan satu pesantren, kurang senang lewat cara mendidiknya, Anda dapat pindahkan ke pesantren lain.

Namun lewat cara yang baik serta tak perlu merendahkan, menyepelekan, atau memperbandingkan satu pesantren dengan yang lain dihadapan pengasuhnya dengan suara mengkritik.

2. Kurang Perhatian

Satu di antara sikap orangtua yang mendorong kegagalan santri yaitu kurang perhatian pada perubahan atau kemunduran anaknya.

Orang-tua jenis ini tidak pernah bertanya pada anaknya telah tiba tingkat apa madrasah diniyahnya? Telah selesaikah pekerjaan hafalannya, dan lain-lain. Mereka cuma memikirkan bagaimana membekali anaknya dengan duit yang cukup.

Jadi saat terbongkar kenyataan kalau anaknya di pesantren nyatanya kurang giat belajar serta condong tidak mematuhi ketentuan, mereka terperanjat. Beberapa lantas berlaku seperti kurang mengerti kenakalan anaknya.

Beberapa yang lain terasa kalau nyatanya pesantren bukanlah tempat melakukan perbaikan moral atau akhlak, namun tempat bersemainya perangai jelek yang menular. Ia berasumsi pergantian jelek pada anaknya yaitu lantaran ketakmampuan pesantren mendidik santri.

3. Sangat Memanjakan Anak

Beberapa orangtua, bahkan juga salah satunya yaitu alumni pesantren, sangat memanjakan anaknya dengan berikan duit bekal terlalu berlebih. Untuk alumni pesantren, terutama yang dulunya di pesantren alami beberapa saat susah, hal semacam itu dipicu hasrat supaya anaknya tak alami penderitaan seperti waktu mereka dahulu nyantri.

Demikian sebaliknya, untuk orangtua yang kaya serta bukanlah alumni pesantren, hal semacam itu lantaran mereka menginginkan anaknya lebih tenang belajar.

Dalam beberapa masalah memanglah santri yang didukung dana berlebihan dapat lebih telaten belajar. Tetapi hanya yang ditemui di pesantren, santri anak orang kaya umumnya malah kurang telaten belajar. Mereka terlena dengan enaknya miliki duit banyak.

Di pesantren, membelanjakan duit lebih leluasa daripada waktu di rumah. Tiap-tiap bulan, “gajian” pastinya. Bila dirumah, mesti memohon dahulu bila menginginkan beli ini serta itu.

4. Kurang Tahu Kenakalan Anak

Ada pula beberapa wali santri yang anaknya alami hukuman terberat berbentuk pemulangan atau pencabutan status anak didik, malah membela anaknya habis-habisan. Mereka terasa paling tahu tingkah anaknya serta tak terima waktu pesantren memulangkan anaknya lantaran satu masalah.

Mereka berasumsi kalau pesantren tak becus mengatur sikap anaknya. Terkadang jadi ada yang membela sang anak serta menyampaikan anaknya dirumah senantiasa berlaku baik.

Pesantren, seperti biasanya instansi pendidikan, ada waktu dimana terasa telah tak dapat mengatasi kenakalan satu diantara santri. Dalam keadaan ini, untuk hindari dampak penularan kenakalan, jadi ketentuan paling umum yaitu memulangkan santri yang telah kronis itu ke orangtuanya.

Bila Anda tanyakan, tidakkah pesantren itu seperti bengkel moral yang siap merias rusaknya santri? Jawabnya, bengkel motor atau mobil saja ada saatnya angkat tangan pada rusaknya kendaraan yang benda mati, terlebih pesantren yang membengkeli makhluk hidup.

5. Sangat Memaksakan Kehendak

Sekarang ini umumnya anak mondok bukanlah murni hasrat sendiri. Dorongan orangtua bahkan juga paksaan adalah latar belakang paling umum untuk santri. Masalahnya, orangtua yang sangat memaksakan kehendak supaya anaknya belajar di pesantren nyatanya malah bikin si anak tertekan.

Pada akhirnya waktu di pesantren malah melampiaskannya lewat cara melakukan tindakan sesuka hati. Repotnya, paksaan pada anak supaya nyantri di pesantren umumnya digabungkan dengan poin ketiga, memanjakan anak dengan bekal berlebihan.

Memanglah, untuk memasukkan anak supaya belajar di pesantren mesti ada paksaan, namun butuh diperhatikan supaya paksaan itu lewat cara sehalus mungkin saja. Mungkin saja juga butuh mengimingi-imingi si anak dengan hadiah dan sebagainya, tetapi jangan pernah terperosok memanjakannya di pesantren.

Bila telah buntu, si anak memanglah tak dapat di pesantren serta memiliki bakat ketrampilan diluar pesantren, mintalah ia supaya ingin menolong Kamu penuhi keharusan membekali anak dengan pengetahuan agama lewat cara mencicipi belajar pesantren.

Mintalah ia untuk mondok sebentar saja. Mungkin saja kelak sesudah di pesantren, malah ia temukan segi enaknya serta jadi kerasan disana.

6. Terlalu Sering Menyambangi Anak

Kesalahan lain yang bisanya membuat santri gagal di pondok pesantren adalah sering pulang. Keadaan sering pulang ini sebenarnya sudah diatur atau diprediksi tiap-tiap pondok pesantren yang mengizinkan anak didiknya pulang setelah berada di pesantren selama 40 hari.

Keputusan mengizinkan pulang selama 40 hari adalah keputusan tepat, sebab selama itulah anak akan bersosialisasi, memantaskan kondisi, dan menerima keadaan.

Masalah sering pulang ketika di pondok pesantren akan membuat anak tidak kerasan, sebab anak yang tinggal di pesantren (santri) akan terus menerus mengingat kondisi dan keadaan rumahnya yang jauh lebih mengasyikkan, misalnya makan selalu disiapkan, baju selalu siapkan, dan keperluan-keperluan lainnya.

Oleh karena agar betah tinggal di pesantren, keputusan pertama jangan sering mengajak anak pulang!

Selanjutnya adalah jangan orangtua merasa khawatir sehingga seringkali menjenguk/menyambangi sang anak ketika di pesantren. Kenyataan ini sering terjadi, saat anak tinggal di pesantren, orangtua sering menjenguk, seolah orangtua khawatir sehingga orangtua membawakan makanan, atau cemilan untuk anaknya. Kondisi ini tentu saja berakibat kepada anak yang inginnya pulang, karena berfikir bahwa ia akan jauh lebih nikmat ketika berada di rumah, bukan di pondok pesantren.

Sebagai catatan, ke 6 sikap itu tak punya pengaruh pada santri yang memanglah miliki hasrat kuat dari dianya untuk belajar di pesantren. Ingin bekalnya sedikit atau banyak, diperhatikan atau tidak, mereka tetaplah telaten belajar.

Mudah-mudahan anak Anda yang awal mulanya sangat terpaksa, sesudah masuk pesantren dapat temukan motivasi dari dianya serta jadi santri yang berhasil! Aamiin.,



Tuliskan Komentar