Strategi Parenting di Lingkungan Pendidikan
Sebuah Catatan Parenting Bagi Guru

Selasa, 22 Jun 2021 | 07:15:14 WIB - Oleh Abdullah Al-Arif


Strategi Parenting di Lingkungan Pendidikan

Dalam psikologi, dikenal dengan istilah psikosomatik. Tak dapat dipungkiri, bahwa anak didik juga memiliki psikologi perkembangan yang harus dipahami oleh guru. Ketika anak didik mengalami gangguan mental berupa kesedihan, marah, traumatik, kecemasan, yang tercampur aduk menjadi satu dan mengakibatkan kebimbangan dan ketidak nyamanan suasana hati mereka, maka bisa saja mereka sedang mengalami gejala psikosomatik, yaitu gangguan penyakit fisik yang disebabkan oleh pikiran. Ketika pikiran anak didik sudah tidak stabil, pernah mengalami traumatik di masa lalunya, dan akhirnya timbul kecemasan, kesedihan, kemarahan yang berlebihan, kegelisahan, yang mengakibatkan kebimbangan di dalam hati mereka, maka guru harus bisa mengembalikan keadaan pikiran menjadi normal.


Psikologi juga mengenal satu istilah hypnoteaching. Hypnoteaching adalah salah satu metode seorang guur dalam menjalankan kegiatan pendidikan agar tercapai tujuan yang diinginkan, dengan memanfaatkan hipnosis. Karena gangguan psikosomatik disebabkan oleh pikiran, maka hipnosis juga memiliki peran penting dalam menangani permasalahan tersebut. Pikiran manusia terbagi menjadi dua bagian, yaitu conscious mind (pikiran sadar) dan subconscious mind (pikiran bawah sadar). Seorang anak didik yang sudah tertanam di dalam pikiran bawah sadarnya suatu kebimbangan, maka guru harus memprogram ulang pikiran bawah sadar tersebut. Nah, di antara pikiran sadar dan pikiran bawah sadar, terdapat critical area yang menghalangi informasi masuk ke dalam pikiran bawah sadar. Oleh karena itu, seorang pendidik harus bisa menerobos critical area agar bisa memasukkan informasi positif ke dalam pikiran bawah sadar mereka dengan cara hypnoteaching. Critical area bisa terbuka ketika seseorang merasa nyaman dan rileks. Pertanyaannya, bagaimana langkah-langkah melakukannya? 


1.  Pacing, yaitu menyamakan gelombang otak seorang pendidik dengan gelombang otak anak didiknya. Tentu, seorang pendidik harus mengetahui psikologi perkembangan anak didiknya terlebih dahulu, dan di usia berapa mereka saat ini. Karena, orang akan merasa nyaman dan rileks ketika mereka bersama dengan orang yang sekufu dengannya.


2.  Leading, yaitu proses memberikan informasi ke dalam pikiran bawah sadar mereka. Leading adalah mengarahkan dan membimbing mereka ke arah yang positif, dan tentunya dilakukan secara terstruktur, sistematis dan masif. Agar informasi positif yang kita tanamkan kepada mereka menjadi permanen, maka harus dilaksanakan secara terus menerus dan berulang-ulang.


3.  Modelling, yaitu proses akhir setelah melakukan pacing dan leading. Modelling adalah menjadi model, panutan, contoh, dan menjaga muru'ah (wibawa) di hadapan anak didik kita. Karena, jika informasi yang tertanam kepada mereka berlawanan dengan perilaku kita, otomatis informasi tersebut akan mudah hilang dan bahkan bisa berakibat fatal berupa pembangkangan.


Setelah berhasil melakukan langkah-langkah tersebut, maka langkah akhir dari yang paling akhir adalah dengan terus mendoakan dan mengirim Al-Fatihah kepada anak didik. Karena, faktor spiritual juga menjadi jaminan antara berhasil dan tidaknya seorang pendidik dalam mendidik dan membimbing anak-anak didiknya.


Semoga bermanfaat!




NB : Langkah-langkah ini tidak hanya bisa diterapkan oleh seorang guru, tetapi orangtua juga bisa menerapkan langkah ini kepada buah hatinya.



Tuliskan Komentar