Kembalinya Sebuah Rasa II
Asa Kepada Maha Rasa

Kamis, 18 Feb 2021 | 15:00:57 WIB - Oleh Agus Antoni


Terbilang sangat syahdu tatkala asyik aku mendengar namanya. Nama yang hanya terhitung tak lebih dari puluhan fonemis saja. Hingga aku terngiang pada sebuah asma yang mudah untuk diungkap. Elisabeth, ku sebut namanya penuh harap. Anggun paras wanita berjilbab itu serasa membuat lidahku menjadi kelu dan kaku. Tak disangka bibirnya mengiyakan, seraya berucap. Kemudian, kini giliran aku mendeskripsikan identitas pribadiku.

Hingga tak lama kemudian dia memanggilku dengan sebutan "Kang Robert". Aku pun bertanya "mengapa kau memanggilku dengan sebutan itu?". Senyum lebarnya isyarat menjawab untaian pertanyaanku. Benar-benar nama yang tak asing ku dengar. Hal itu mengingatkan pada sosok penjual cilok semasa aku duduk di bangku Sekolah Dasar. Ya benar, tak salah lagi mang Robert. Seorang penjual cilok yang sangat familiar dengan sebuah kentongannya.

Irama khas bunyi kentongan Mang Robert dulu, syarat penuh makna. Karena setiap ketukannya tetap pasti menimbulkan bunyian yang sama. Kita perlu banyak belajar dari bunyi kentongan mang Robert itu. Meski unsur warnanya sudah pudar dan pias karena terus berperang melawan panas. Walaupun unsur estetikanya pun menjadi lumutan karena kerap dibasahi air hujan. Kentongan itu tetap elok dengan bunyi yang diciptakan.

Berangkat dari hal itu, aku jadi teringat sebuah prasasti yang terletak di dalam otakku. "Istiqomah memang susah, Gus" guru zaman SMA ku dulu berfirman padaku. Tidak ada yang bisa menjalani rasa ini penuh konsisten, lain halnya denganku yang nyatanya setia dan paten. Sampai sekarang, pesan yang tertuang dalam prasasti itu benar-benar aku jadikan sebuah pedoman.
Bertanding melawan rasa, berjuang mengalahkan nafsu belaka, aku tetap bertahan dan akan terus menjaga. Karena bagiku perkara cinta sama seperti halnya sebuah niat. Bagaimana lisan, hati dan tindakan saling terikat. Begitupun cinta yang tak hanya janji dengan sebuah kata saja, juga butuh tindakan yang berupa sebuah perjuangan serta berhasil menjaga titipanNya dengan setulusnya jiwa.

Setalah semua bukti otentik terkumpul, aku mulai menata niat agar dapat terkabul. Sedini mungkin aku mempersiapkan bekal agar tak lagi gagal. Sejak ini aku selalu melibatkanNya agar tak kembali merana. Kemudian, aku sudah siap untuk menyambutnya dengan penuh bahagia. Harapan nyata mengiringi langkahku untuk menopang panjangnya semesta. Perjalan panjang ke depan akan mampu membuktikan, bahwa untuk menuju puncak penuh rintang. Aku harus mempersiapkan diri untuk tetap berjuang demi meraih nikmatnya menang. Secercah harapan yang besar, aku serahkan padamu yang maha akbar. Menimbang tentu tak pernah dapat habis, karena suatu sifat manusia yang dinamis. Mencoba yakin akan kepastian takaranNya yang  berujung manis.
Bersambung...



Tuliskan Komentar